I have often wondered how this trend got started, I now have the answer.
A man is at work one day when he notices that his co-worker is wearing an earring.
This man knows his co-worker to be a normally conservative fellow, and is curious about his sudden change in “fashion sense.”
The man walks up to him and says, “I didn’t know you were into earrings.”
“Don’t make such a big deal, it’s only an earring, “he replies sheepishly.
His friend falls silent for a few minutes, but then his curiosity prods him to say, “So, how long have you been wearing one?”
“Ever since my wife found it in my car.”
Why Men Wear Earrings
•July 7, 2009 • Leave a CommentPansus DPT Akan Panggil Ahli IT Microsoft
•July 3, 2009 • Leave a Commentdi cuplik dari detik.com
Panitia Hak Angket Daftar Pemilih Tetap (DPT) menemukan adanya ketidaksesuaian DPT di beberapa Kabupaten/Kota dengan DPT yang dimiliki KPU pada Pileg yang lalu. Dugaan sementara, ketidaksesuaian tersebut karena ada perbedaan penggunaan software dalam menyimpan data.
“Karenanya Pansus akan meminta ahli IT Microsoft apakah perubahan sistem ini akan merubah data atau tidak? Apakah ini dilakukan oleh kehendak seseorang atau tidak,” kata Ketua Panitia Hak Angket DPT Gayus Lumbuun kepada wartawan di Kantor Badan Pemenangan Presiden Megawati, Jl Cik Di Tiro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2099).
Gayus menjelaskan, perbedaan software yang digunakan bisa menjadi alasan banyaknya pemilih ganda dan pemilih fiktif.
“Data kependudukan dari Pemerintah menggunakan program Microsoft Exel. Tapi, pengolahan DPT itu menggunakan Microsoft Acces,” jelasnya.
Menurut Gayus, pihaknya telah mengunjungi 5 daerah secara serentak di seluruh Indonesia. Daerah-daerah tersebut antara lain, Papua, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara.
“Kami bertemu dengan Panwas dan KPUD dan sudah kami tanyakan memang ada perbedaan tentang DPT,” jelasnya.
Kacau ga tuh? Untuk konversi dari excel ke access aja ampe minta bantuan Microsuck. Musti bayar berapa tuh feenya buat ngerjain task yg sepele gitu? Belum biaya tiket pergi pulang, biaya akomodasi, dan yg paling mahal biaya menahan malu.
Klo menurut g sih, pake jasa peserta kursus ms.office aja bisa tuh, lebih murah lagi.
Tp apa pendapat g bisa sampe kesana yah?
PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA
•July 2, 2009 • Leave a CommentSalemba, Warta Kota
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.
Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor . Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.
Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku.
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.
Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor . Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia ,” ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.
Brain Exercise
•June 11, 2009 • 1 CommentExercise of the brain is as important as exercise of the muscles. As we grow older, it’s important that we keep mentally alert. The saying: “If you don’t use it, you will lose it” also applies to the brain.
Below is a very private way to gage your loss or non-loss of intelligence. So take the following test presented here and determine if you are losing it or are still a MENSA candidate. OK, relax, clear your mind and . . . begin.
1. What do you put in a toaster?
The answer is bread. If you said “toast”, then give up now and go do something else. Try not to hurt yourself. If you said, “bread”, go to question
2. Say “silk” five times. Now spell “silk”. What do cows drink?
Answer: Cows drink water. If you said “milk”, please do not attempt the next question. Your brain is obviously overstressed and may even overheat. It may be that you need to content yourself with reading something more appropriate such as “Children’s World”. If you said, “water” then proceed to question three. Continue reading ‘Brain Exercise’
Dukungan Terhadap Prita Mulyasari
•June 4, 2009 • 2 CommentsPrita Mulyasari, seorang ibu rumah tangga dipenjara krn uneg2nya dlm email dianggap menyinggung dan merusak nama baik orang lain. G yakin temen2, apalagi yg join di banyak milis pasti pernah baca emailnya. Buat yg belum, ini isi emailnya, tp nama pengirim dan milisnya ga g muat yah
Continue reading ‘Dukungan Terhadap Prita Mulyasari’
Healing The Sick
•June 2, 2009 • Leave a CommentAn elderly couple was watching TV when a TV evangelist cameon air to pray for the sick. The evangelist said. “For those of you who are sick, I want to pray with you so that you can be cured of your sickness. Place your right hand on the part of your body that is suffering from disorder, and raise your left hand.”
The husband placed his right hand on his privates, raised his left hand, and closed his eyes.
His wife saw what he did, and slowly whispered, “Honey, this prayer is to heal the sick, not to raise the dead!”
Wakakak..
What is Marketing?
•June 2, 2009 • Leave a CommentYou see a gorgeous girl at a party.
You go up to her and say, ‘I am very rich. Marry me!’
That’s Direct Marketing
You’re at a party with a bunch of friends and see a gorgeous girl.
One of your friends goes up to her and pointing at you says, ‘He’s very
rich. Marry him.’
That’s Advertising. Continue reading ‘What is Marketing?’
Business Logic
•June 2, 2009 • Leave a CommentFather : “I want you to marry a girl of my choice.”
Son : “I will choose my own bride.”
Father : “But the girl is Bill Gates’s daughter.”
Son : “Well.. in that case.. ok”
No More Connection Can Be Made
•May 28, 2009 • Leave a CommentBeberapa waktu lalu di tempat g nyangkul melakukan migrasi OS dari Win 2000 (1 Ori sisanya copian ori :p) ke Win XP (Ori semua), tp yg Home edition.
Instalasi berjalan lancar walaupun capek juga bo nginstal puluhan PC lengkap dgn update2nya, belum file2 data user yg “kemana2″, email yg gedenya suka ga kira2, game dan savenya … (Utk nama yg ga g sebut ini, lo hutang traktiran makan siang) Continue reading ‘No More Connection Can Be Made’
Selamat Jalan Sahabat..
•May 25, 2009 • 4 CommentsMinggu, 24 Mei 2009
Hari ini g kehilangan seorang sahabat. Effandy Rahmat Hidayat, dipanggil kembali olehNya setelah berjuang melawan penyakit yg menyerang otak, tenggorokan dan perut.
Sampe lama g belum bisa percaya klo salah satu teman terdekat g sudah duluan menghadap Sang Khalik.
Ga lama, Ella telp ngajak bareng ke rumah duka. Ok, g masih becanda en kita malah masih sempet ke Soto Gebraak buat sarapan. Dalam hati g masih berharap klo berita itu salah ato ada temen yg iseng ngabarin klo si Efan meninggal.
Jgn nyalahin g klo berharap itu cuman ulah konyol yg keterlaluan dr temen2nya, coz emang gitu yg sering terjadi :p. Doi pernah kita issuin udah nikah sampe diomelin org byk krn ga ngundang2 dan harus bolak balik ngejelasin klo berita tsb ga bener, gmana org2 ga mo percaya klo yg nyebarin berita temen2 terdekatnya dgn bukti2 kuat (gombal).
Sampe di Rawamangun, rupanya udah rame. G langsung lemes, ternyata memang ada bendera kuning di rumahnya. Di sana g ketemu Stevy, ama Indra yg langsung ngajak ke dalam.
Efan udah terbujur kaku, di samping istri dan anak2nya. Setelah ngucapin bela sungkawa ke bunda dan kakak2nya juga istrinya, g duduk dan baca doa yg g bisa untuk nemenin sahabat g “jalan”.
Klo berhubung urusan dgn Efan, g selalu tega
G tega buat nendang sekuat tenaga klo lg latihan, g tega buat nyerang sekuatnya klo lg sparring, g tega buat bikin dia mati kutu klo lg ama “gebetannya” (dulu). Tp sekarang g bener2 ga tega ngeliat anaknya yg kecil di gendongan ibunya nunjuk mayat ayahnya sambil manggil2, “Ayah.. ayah..”
G juga ga tega waktu denger klo si Rayfan, anaknya yg pertama suka bangun pagi2 dan ngajak ibunya sholat ngedoain ayahnya.
G ga bertahan lama di situ, g langsung keluar coz airmata g dah ga bisa ditahan en dada g dah sesak.
Di luar kita nunggu waktu Dzuhur, sambil nunggu g teringat saat2 kita masih suka jalan rame2.
G pertama ketemu Efan di pertandingan Taekwondo antar mahasiswa se-DKI. Doi rajanya kelas bantam Jakarta Timur, sedangkan g di Jakarta Barat. Kebetulan g duluan yg sampe final, iseng2 g nonton pertandingan semifinal buat ngeliat calon lawan ah..
Gokil.. atletnya tinggi amat nih sudut biru, lawannya sudut merah sedikit lebih pendek dr g. Wah, bakal keok nih si merah, mending g perhatiin maennya sibiru aja.
Bener aja, dgn jangkauan yg jauh lebih panjang, biru mendominasi pertandingan. Ronde 1, ronde 2, biru unggul point. Duh.. g belum dpt cara buat ngelawan sibiru nih, tiba2 “Plakk” sibiru KO.
Tendangan “Dwi Hurigi” kaki kanan dari lawannya si merah yg lebih pendek bikin si biru yg jangkung itu “tidur” ampe hitungan 10 dari wasit slesai.
Sialaan.. belum juga dapet cara buat ngelawan sijangkung, g malah dapet lawan yg bikin KO die.
Satu jam kemudian setelah istirahat, g ketemu dia di final. Ga usah diceritain deh.. kita bedua ancur2an. Doi menang 1-0, krn kelalaian g sendiri yg nangkis tendangannya ga sempurna.
Awas lo, laen kali g bales..
Ga lama nunggu, kesempatan g buat bales dateng.. Ternyata nih anak, belakangan g tau namanya Efan, temennya Stevy ama Anggun. Waktu mo ada PraPON, mereka ngajak latian bareng.
Eh, ada si Efan juga rupanya. Doi rupanya main untuk DKI, sementara g baru dikontrak ama NTB. Perang psikologi deh kita. Semua tehnik yg dia lakuin g ga mau kalah, gitu juga sebaliknya. Tinggal fightnya aja yg belum, nanti aja, pertandingan dah dekat, rugi klo cedera sekarang.
Dasar emang bukan rejeki g, ada official DKI yg tau klo g main bela NTB, doi protes so g terpaksa ga bisa turun tanding. Dan sialnya lagi, pertandingan pertama NTB ketemu DKI!!! Huh!!! g cuman bisa ngedumel sendiri ngeliat pengganti g diayam2in ama Efan.
Setelah PraPON, g jd lebih akrab ama Efan. Tp g selalu cari cara biar bisa fight ama dia :p. Eh lama2 malah jd sohiban deh kita. Bem Rojak, Efan, Stevy, Gue, Anggun, Arif ama satu yg cewek Ella. Sebenarnya lebih banyak, tp lebih sering sih yg disebut tadi.
G punya banyak kejadian bersama Efan ini. Pernah dia ngajak g buat nagih hutang di Ancol. Katanya,”Tenang Yus, mereka cuman berempat. Lo 2, gue 2, sipkan?” Ok g bilang, padahal dalam hati g pikir, “G ambil 1 yg 3 buat elo :p”
Di perjalanan, motornya sering bgt ngembat lubang. Padahal jalannya ga rusak, waktu g tanya dia cuman bilang,”Lampu motor g mati, klo kena lubang suka nyala lagi” saat itu g ga bisa bedain ni anak bego ato tolol..
Sampe di Ancol, yg dicari lg keluar. Kita ke resepsionis buat nanya. “Oh, emang lg keluar ama temen2nya”. Iseng2 g nanya, “Mereka keluar berberapa?”. “Sekitar 8 orang..”
Setan bener.. 8 orang dia bilang 4, coba tadi mereka ada trus kita maen maju aja.. 2 banding 4 aja g dah males mikirnya. 2 banding 8 bukan merupakan favorit g, apalagi g ada di bagian 2 :p Udah gitu dia cuman cengar cengir ngeliat g melotot ke dia.
Tp untung ujung2nya masalah selesai dgn baik.
Tetapi Efan yg juara Taekwondo ini ternyata takut bener ama yg namanya bencong. Doi pernah sprint ngejar mobil trus masuk lewat jendela krn kita tinggalin di depan Pengadilan Jakarta Timur yg terkenal byk bencong :p
Entah kenapa klo bareng Efan g jadi sering ribut di jalan. Kita pernah mo ditembak polisi krn berantem di jalan krn ada mobil nyenggol mobil g.
Kita pernah mo dikeroyok krn g belain adeknya yg digodain serombongan cowok, udah berdiri punggung2an tinggal jadinya aja. Eh, begitu tau itu Efan, mereka langsung salaman minta maaf (Lagi nekat aja ribut di Rawamangun, itukan daerah rumah die).
Kita pernah mo berantem ama sekumpulan tukang bajaj, yg waktu 1 lawan 1 lari kesana kemari, begitu dateng temen2nya langsung “berani” berdiri di belakang temennya :p
G pernah hampir salah mukul org krn ada yg ngambil barang g waktu di lampu merah, ternyata itu ulahnya Efan yg lg ngisengin g.
Kita pernah ampir masuk jurang di puncak krn g lupa nyalain lampu mobil :p
Kita pernah nyasar di Bandung ampe pagi cuman mo nyari BIP, padahal BIP cuman di jalan sebelah (Bego berempat
)
Kita pernah kemaleman di biliard Puncak trus tidur di mobil, sadar2 mobilnya dah turun ke jalan raya (klo saat itu ada bis ato mobil laen lewat, udah dari dulu2 kita “lewat”)
Terlalu banyak yg musti g tulis klo mau diceritain smua.
Efan yg tegas tp juga konyol krn mirip Parto ini sering diisengin ama istri g yg cantik en imut, Anna. Klo kita abis ngegantiin Efan ngelatih di dojangnya di Topaz. Anna ga mau dikasih duit, mintanya ditraktir aja. Tapi milihnya ga kira2, minimal Platinum. Makan bertiga, mesen terserah, jadi mahal bgt kan. Tp Efan cuman bisa nyengir klo ama Annaku.
Efan adalah yg pertama di antara kita berempat yg “sadar” en nikah. Disusul Anggun, Gue, baru Stevy.
Dia juga yg pertama “pergi” menghadap.
Pas Dzuhur, kita sholat Dzuhur trus sholatin Efan. Setelah itu langsung ke kuburannya di Kemiri.
Krn parkirannya yg kejauhan, g sampe waktu kuburannya udah ditimbun. Skali lagi g ga bisa nahan air mata ngeliat anak2nya. Klo tentang Efan, g udah bisa nerima, tapi anak2nya selalu berhasil bikin g trenyuh.
Sekali lagi g berdoa buat sahabat yg sudah seperti keluarga sendiri ini.
Selamat jalan sahabat.. g akan usahain semampunya utk jalanin amanat lo buat megang Topaz. Suatu saat nanti, kita temen2 lo akan menyusul, mudah2an kita bisa ketemu dalam keadaan yg lebih baik.
NB:
Klo ada yg g inget, akan g update lagi disini. Your comment is really appreciated.


